Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

11 September 2011

Aku ingat, hari-hari terakhir kita, sebelum aku merelakan. Disana kita duduk terdiam. Di sebuah kios penyedia jasa cuci motor sederhana berlantai 2. Aku tak banyak berkata, kamu pun. Mencoba menyembunyikan keraguan yang ada. Kecemasan tampak jelas di mata kami, namun tak ada yang benar-benar bertanya. Itu adalah hari terakhir aku melihatnya. Impian-impian sederhana yang kami rangkai berdua, harus terkubur sebagai impian saja. Padanya aku tertegun, mengagumi kemampuannnya melepas dengan indah, tanpa terluka, tanpa sepatah kata. Dengan penuh harga diri, aku pun mencoba tegar. Tak membicarakanmu saat yang lain bersorai gembira. Hari-hari pertama yang kujalani tanpamu, terasa seperti hari biasa, hanya tanpa tawa, tanpa suara, tangis pun. Ku berjalan dengan ekspresi datar, tanpa sakit, tanpa kecewa, hanya aku, dan aku saja. Berkali ku berharap lirih ada yang membangunkanku dari ketakutanku ini. Namun mungkin benar aku yang salah. Tapi bila memang ku salah, bukannya kau yang harus membenarkannya? 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar